BerandaPIYEJAL?Akibat Social Media, Dialek Semarang Pelan-pelan Ilang

Akibat Social Media, Dialek Semarang Pelan-pelan Ilang

Anak muda Semarang sekarang wis kebacut akrab sama bahasa TikTok. “Slay” gampang keluar, “delulu” tinggal sebut, tapi giliran “ndes” atau “matamu ik” — jan-jane malah pada bengong.

Dialek Semarangan yang dulu nempel di setiap obrolan warung kopi, angkringan, sampai tongkrongan pinggir jalan, pelan-pelan mulai tergeser. Bukan hilang seketika, tapi ya ora to — makin jarang aja kedengaran, terutama di kalangan anak muda.

Udin Larahan, pegiat sosial-budaya sekaligus pemilik Angkringan West Semarang, bilang fenomena ini bukan cuma soal bahasa. Ini soal identitas. Soal suasana tongkrongan yang dulu bikin obrolan cair karena logat medok dan umpatan akrab khas Kota Lumpia. Sekarang? Suasananya beda. HP lebih banyak ngomong daripada mulu

Tapi Udin juga nggak mau pesimis. Menurutnya, bahasa Semarangan belum benar-benar punah. Di beberapa sudut kota — angkringan, warung kopi malam, tongkrongan lama — logat itu masih sesekali nongol. Masih ada yang pakai. Masih ada yang jaga.

Di sisi lain, ya memang nggak bisa dipungkiri: arus bahasa viral dari media sosial itu deras. Gen Z lebih cepat nyerap istilah internet daripada mempertahankan logat daerah sendiri. Nylentik memang, tapi begitulah kenyataannya.

Yang bikin menarik, beberapa kata yang orang luar anggap kasar — seperti “matamu” atau “ndes” — justru jadi bentuk keakraban paling tulus buat warga Semarang. Hilangkan itu dari obrolan, hilang juga suasananya.

Yo wis, daripada cuma baca, langsung simak artikel lengkapnya di bawah. Interaktif, lengkap sama glosarium dialek, infografis pergeseran bahasa, dan polling buat kamu yang masih (atau sudah nggak) pakai bahasa Semarangan sehari-hari.

“Ndes” Pelan-pelan Hilang — Dialek Semarangan Kalah Sama Bahasa TikTok
Fokus
ASLISEMARANG
14 Mei 2026
Investigasi Budaya

“Ndes” Pelan-pelan Hilang dari Tongkrongan

Dialek khas Kota Lumpia mulai tergeser bahasa viral TikTok dan slang media sosial. Kata-kata yang dulu bikin obrolan cair, sekarang makin jarang kedengaran di tongkrongan anak muda Semarang.

Udin Larahan di Angkringan West Semarang

Pegiat sosial-budaya sekaligus pemilik Angkringan West, Udin Larahan, melayani pelanggan warungnya di Semarang.

Anak muda Semarang sekarang makin akrab sama bahasa viral TikTok, istilah Twitter, sampai slang media sosial. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang pelan-pelan mulai hilang dari tongkrongan: dialek khas Semarangan. Kalimat-kalimat ceplas-ceplos khas Kota Lumpia — “ndes”, “ki ndes”, sampai “matamu ik” — yang dulu hampir selalu nongol di setiap obrolan warung kopi, sekarang mulai kalah sama bahasa gaul yang dianggap lebih relate sama generasi sekarang.

Fenomena ini diungkapkan Udin Larahan, pemilik Angkringan West Semarang. Menurutnya, perubahan cara anak muda nongkrong ikut memengaruhi cara mereka berbicara sehari-hari.

“Sekarang anak muda lebih sering ikut bahasa yang viral di media sosial, jadi logat daerah mulai jarang terdengar.”
Udin Larahan — Angkringan West, 13 Mei 2026

Glosarium Dialek Semarangan

Ndes
Umpatan akrab antar teman — bukan makian
“Wah ndes, kok ngono to!”
Ki Ndes
Ekspresi kaget atau kesal ringan
“Ki ndes, moco sik!”
Matamu
Bukan marah — justru penanda keakraban
“Matamu ik, ngawur kowe!”
Ik
Penekanan khas di akhir kalimat Semarangan
“Wis to ik, cepetan!”
Ngalor-ngidul
Ngobrol ke mana-mana tanpa arah jelas
“Nongkrong ngalor-ngidul terus sampai subuh”

Kalau dulu, nongkrong bisa sampai berjam-jam cuma buat ngobrol ngalor-ngidul. Tongkrongan jadi tempat lahirnya candaan dan istilah khas Semarang. Tapi sekarang suasananya mulai beda — dunia digital perlahan menggeser budaya ngobrol langsung.

“Kalau dulu hiburannya ya nongkrong. Dari nongkrong itu muncul candaan, bahasa khas, sampai gaya ngomong yang akhirnya kebawa terus,” kata Udin.

Infografis

Tongkrongan Dulu vs. Sekarang

☕ Era Analog
Nongkrong berjam-jam, ngalor-ngidul
Candaan lahir dari obrolan langsung
Logat Semarang = identitas pergaulan
“Matamu” = tanda keakraban
📱 Era Digital
Nongkrong sambil scroll HP
Candaan dari meme & TikTok
Bahasa viral jadi default obrolan
“Slay” / “delulu” = bahasa gaul baru

Udin bilang, generasi sekarang lebih cepat nyerap bahasa yang lagi viral di internet dibanding mempertahankan logat daerah sendiri. Akibatnya, gaya ngomong khas Semarang makin jarang dipakai — terutama di kalangan remaja.

Padahal, bahasa Semarangan bukan sekadar logat medok biasa. Ada suasana akrab, spontan, dan ceplas-ceplos yang jadi identitas orang Semarang saat bergaul.

“Bahasa Semarang itu bukan cuma logat, tapi bagian dari suasana tongkrongan dan cara orang Semarang bergaul sehari-hari.”
Udin Larahan

Yang menarik: beberapa kata yang sering dianggap kasar sama orang luar, justru jadi bentuk keakraban buat warga Semarang sendiri. Kalimat seperti “matamu” atau “ndes” sering dipakai buat bercanda dan malah bikin obrolan makin cair.

Belum Benar-benar Punah

Meski mulai jarang terdengar, Udin merasa bahasa Semarangan sebenarnya belum benar-benar hilang. Di beberapa warung kopi, angkringan, sampai tongkrongan malam — logat khas itu masih sesekali muncul.

Kronologi Pergeseran
IEra Awal

Tongkrongan Analog

Angkringan dan warung kopi jadi tempat utama anak muda ngobrol. Dialek Semarangan tumbuh subur dari interaksi langsung — candaan sampai umpatan akrab.

II2010-an

Media Sosial Masuk

Facebook dan Twitter memperkenalkan bahasa gaul nasional. Logat daerah mulai campur-aduk dengan istilah internet.

III2020-an

Dominasi Short-Video

TikTok dan Reels mendorong bahasa viral yang seragam. Istilah “slay”, “delulu”, “bestie” jadi default obrolan lintas kota.

IV2026

Dialek Terjepit

Logat Semarangan masih ada, tapi makin jarang dipakai anak muda. Tongkrongan berubah jadi tempat scroll HP bareng.

750K+
Warga Semarang
di bawah 30 tahun
82%
Gen Z lebih familiar
bahasa medsos*
Tren penggunaan
dialek lokal

*) Data ilustratif berdasarkan tren nasional penggunaan bahasa daerah di kalangan Gen Z.

Sebagai orang yang tiap hari ketemu banyak anak muda di angkringannya, Udin merasa tongkrongan masih jadi salah satu tempat penting buat menjaga bahasa daerah tetap hidup.

“Kalau bahasa Semarang hilang, suasana khas nongkrong dan candaan orang Semarang juga ikut berubah.”
Udin Larahan

Di tengah derasnya pengaruh media sosial dan tren bahasa gaul internet, Udin berharap anak muda Semarang tetap pede pakai logat daerah sendiri. Karena buatnya, bahasa bukan cuma soal komunikasi — tapi juga identitas khas Kota Semarang yang sayang kalau sampai hilang pelan-pelan.

Survei Pembaca

Masih sering pakai bahasa Semarangan di obrolan sehari-hari?

Bahasa Itu Identitas.
Jangan Sampai Hilang.

Logat Semarangan bukan cuma kata-kata — itu suasana, keakraban, dan identitas Kota Lumpia yang nggak bisa digantikan bahasa viral mana pun.

#SemarangOraIlang
ASLISEMARANG

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

TERBARU