BerandaPIYEJAL?Boso Gali: Bahasa Rahasia Preman Semarang yang Bikin Bingung Orang Luar

Boso Gali: Bahasa Rahasia Preman Semarang yang Bikin Bingung Orang Luar

Mode ngoce congyang, ngamu ngoce moli.

Kalau kamu orang Semarang asli dan langsung paham kalimat di atas, selamat — kamu penutur boso gali. Kalau kamu bengong, ya ora to, santai. Artinya cuma: “Kamu minum congyang, aku minum kopi.” Tidak ada yang mengancam. Tapi justru itulah intinya — bahasa ini memang dirancang supaya orang luar tidak paham.

Boso gali adalah bahasa prokem alias bahasa walikan khas Semarang yang sudah eksis sejak era 1970-an. Nama “gali” sendiri bukan sembarang julukan. Istilah ini singkatan dari gabungan anak liar — sebutan untuk preman-preman kawasan Terminal Terboyo, Pasar Johar, dan Pelabuhan Tanjung Emas yang butuh bahasa sandi supaya komunikasi mereka tidak terbaca pihak lain.

Jan-jane, bahasa ini bukan sekadar slang asal-asalan. Ada rumus matematis di baliknya, dan rumus itu ditarik langsung dari aksara Jawa hanacaraka.

Rumus yang Bikin Mumet — tapi Sebenarnya Sederhana

Boso gali Semarang berbeda dengan boso walikan Malang yang cukup membalik huruf dari belakang (Malang jadi Ngalam, polisi jadi isilop). Di Semarang, sistemnya lebih rumit karena menggunakan tabel aksara Jawa sebagai dasar pertukaran konsonan.

Begini caranya. Dua puluh aksara Jawa dibagi menjadi empat baris, lalu baris pertama ditukar dengan baris keempat, dan baris kedua ditukar dengan baris ketiga. Huruf vokal (a, i, u, e, o) tetap di tempatnya — yang bergerak hanya konsonan.

Baris pertama (ha – na – ca – ra – ka) diwalik ke baris keempat (ma – ga – ba – ta – nga). Baris kedua (da – ta – sa – wa – la) melompat ke baris ketiga (pa – dha – ja – ya – nya).

Jadi kalau kamu tahu pasangan hurufnya, tinggal tukar-tukar saja. Huruf H jadi NG, huruf N jadi TH, huruf C jadi B, dan seterusnya — berlaku dua arah.

Contoh paling gampang: kata “enak” dalam bahasa Jawa. Konsonan N ditukar jadi TH, konsonan K ditukar jadi M. Vokal E dan A tetap. Hasilnya? Ngetham. Nah, sekarang coba ucapkan “ngetham” di warung kopi Sampangan — kalau penjualnya senyum, berarti dia paham.

Kamus Mini Boso Gali: Dari Mangan sampai Turu

Wis kebacut penasaran? Ini beberapa kosakata boso gali yang paling sering dipakai cah-cah Semarang, lengkap dengan asal kata dan artinya.

Kahat — dari kata mangan (makan). “Mode wis kahat gung?” artinya “Kamu sudah makan belum?” Jawabnya bisa “dhis” (wis/sudah) atau “gung” (rung/belum).

Gomom — walikan dari rokok. “Pak, ngotho gomom gam?” berarti “Pak, ada rokok nggak?” Kalau ada, penjual jawab “ngotho” (ono/ada).

Ngoce — dari kata ombe (minum). Tapi ngoce biasanya merujuk ke minum-minuman keras, bukan minum teh manis. “Mode ngoce congyang” berarti “kamu minum congyang” — congyang itu minuman keras khas Semarang.

Ngalim — walikan dari apik (baik/bagus). “Kas Hendi ki wonge ngalim” artinya “Mas Hendi itu orangnya baik.”

Yugu — dari kata turu (tidur). “Calam ngicu ning endhi?” dalam boso gali berarti “Bapak ibu ke mana?” — di mana calam adalah walikan dari bapak, dan ngicu dari ibu.

Puha — walikan dari lunga (pergi). Sapath — dari jalan. Kas — dari mas. Moli — dari kopi. Ngigeng — dari ireng (hitam). Jadi “moli ngigeng” ya kopi hitam.

Bukan Cuma Kosakata — Ada Angka Juga, Ndes

Yang bikin boso gali makin unik: preman-preman Semarang juga punya kode angka tersendiri. Ini bukan walikan aksara Jawa, tapi istilah sandi murni yang harus dihafal satu per satu.

Rojo berarti 1, kirik berarti 2, gajah berarti 3, gendero artinya 4, jaran untuk 5, kantong untuk 6, pacul untuk 7, bolep untuk 8, pancing untuk 9, dan rojo gede berarti 10. Bayangkan preman era 80-an di Terminal Terboyo ngomong “gajah kantong” — yang dimaksud adalah angka 36. Orang di sekitarnya? Ya bengong.

Dari Sandi Preman ke Bahasa Gaul Cah Semarang

Bahasa ini memang lahir di lingkungan yang keras. Kawasan Bandarharjo, Barutikung di Semarang Utara, Tegalsari di Semarang Tengah — itu semua teritori “gali” yang jadi tempat lahir boso ini. Tapi seiring waktu, bahasa prokem Semarangan merembes ke kalangan lebih luas.

Anggota DPRD Kota Semarang, Supriyadi — yang pernah bekerja di kawasan Terminal Terboyo — mengatakan bahwa pada perkembangannya, boso gali tidak lagi eksklusif milik preman. Pelajar, mahasiswa, dan komunitas anak muda Semarang mulai mengadopsinya sebagai bahasa gaul era itu.

Yang menarik, ternyata boso gali bukan satu-satunya bahasa sandi di Semarang. Supriyadi mengungkap ada varian lain bernama bahasa cikrosan yang jauh lebih spesifik — lengkap dengan istilah untuk jenis-jenis kejahatan tertentu. Ada juga prokem angka, dan prokem khas kawasan Pecinan yang dituturkan masyarakat keturunan Tionghoa.

Yo wis, kekayaan linguistik Semarang memang nylentik — berlapis-lapis dan penuh kejutan.

Boso Gali di 2026: Masih Hidup atau Tinggal Kenangan?

Pertanyaan besarnya: apakah boso gali masih dipakai hari ini? Jawabannya — ya, tapi sudah sangat terbatas. Penuturnya makin sedikit. Generasi muda Semarang lebih akrab dengan bahasa gaul ala media sosial daripada hafal rumus hanacaraka.

Tapi justru di situlah pentingnya dokumentasi seperti ini. Boso gali bukan sekadar bahasa preman. Ini adalah artefak budaya urban Semarang yang mencerminkan kreativitas linguistik masyarakat kota — kemampuan menciptakan sistem komunikasi lengkap dari nol, dengan rumus, kosakata, dan bahkan sistem angka tersendiri.

Kalau kamu cah Semarang yang masih bisa ngomong boso gali, jangan disimpan sendiri. Ajari adik-adikmu. Pakai di tongkrongan. Bikin konten. Karena kalau tidak, bahasa ini benar-benar hanya akan jadi catatan di dinding Facebook lama — dibaca sekilas, lalu ditinggal scroll.

Mode wis kahat gung? (*)

Sumber:

  • Facebook Asli Semarang Ndes (@aslisemarangNDES)
  • Halo Semarang, “Mengenal Bahasa Prokem Semarangan” (20 Januari 2023)
  • Terminal Mojok, “10 Kosakata Bahasa Walikan Orang Semarang” (13 Maret 2022)
  • Curcol.co, “Kamus Bahasa Semarang Lengkap”
  • Ayo Semarang, “Kenalan dengan Bahasa Gaul Khas Semarangan”

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

TERBARU