SEMARANG – Kota Semarang menyimpan berbagai kisah sejarah, termasuk beberapa kasus kriminal masa lalu yang sempat menggemparkan warga. Salah satu yang paling membekas adalah misteri kasus Ranem, seorang pekerja di kawasan lokalisasi Sunan Kuning yang menjadi korban penculikan dan pembunuhan tragis pada November 1971. Jasadnya kemudian ditemukan terbuang di kawasan Silayur, Semarang.
Kasus ini baru berhasil disidangkan dua tahun setelah kejadian, tepatnya pada pertengahan 1973. Lalu, bagaimana kronologi dan motif di balik pembunuhan kejam ini?
Siapa Sosok Ranem?
Ranem adalah seorang wanita berusia 22 tahun. Kepada keluarganya di kampung halaman, ia mengaku bekerja sebagai buruh pabrik. Namun nyatanya, Ranem mencari nafkah sebagai salah satu pekerja seks komersial (PSK) di kawasan prostitusi Sunan Kuning, Kota Semarang.
Menjelang hari-hari terakhirnya di bulan November 1971, Ranem sebenarnya tengah bersiap-siap untuk mudik Lebaran. Hasil keringatnya selama ini ia tabung demi keluarga. Diketahui, ia sudah mengantongi uang tunai sebesar Rp16 ribu dan berbagai perhiasan senilai Rp68 ribu—jumlah yang sangat besar pada masa itu.
Awal Mula Petaka: Tawaran Kencan Fiktif
Malam petaka itu bermula ketika aktivitas di Sunan Kuning berjalan seperti biasa. Menjelang pukul 22.00 WIB, Ranem dijemput oleh sepasang suami istri, Marjadi dan Sumijati, menggunakan sebuah mobil Jeep.
Kepada Ranem, pasutri tersebut menawarkan booking-an khusus dengan bayaran yang sangat tinggi. Tergiur oleh iming-iming uang untuk tambahan bekal mudik Lebaran, Ranem pun menyetujui tawaran tersebut.
Di dalam mobil, pelaku bersikap sangat ramah untuk menghilangkan kecurigaan. Ranem diajak berkeliling menikmati malam, mulai dari jajan di sekitar area Depok hingga mencari angin di Pelabuhan Tanjung Emas, sebelum akhirnya dibawa ke sebuah hotel di Jalan Dr Cipto, Semarang.
Dalang di Balik Penculikan Ranem
Setibanya di Hotel Samodra, Ranem terkejut saat mengetahui bahwa pasutri yang menjemputnya ternyata adalah kaki tangan seorang pria berinisial SN.
SN bukanlah orang baru bagi Ranem. Keduanya pernah bertemu sebelumnya dalam sebuah acara Orkes Gambus. Saat itu, Ranem menolak mentah-mentah ajakan kencan SN dan memilih “jual mahal”. Penolakan inilah yang memicu rasa sakit hati mendalam pada diri SN, yang kemudian menjadi motif utama tindak kejahatan terencana ini.
Skenario Penculikan Terorganisir
Menurut arsip persidangan, SN tidak beraksi sendirian. Ia berkomplot dengan sejumlah rekannya, di antaranya ED, PT, KN, serta pasutri Marjadi dan Sumijati. Ide penculikan yang dibuat seolah-olah seperti perjalanan kencan biasa merupakan gagasan dari ED.
Dari Bandungan Hingga Eksekusi di Semarang
Setelah disekap di Hotel Samodra, komplotan yang kini berjumlah sekitar 8 orang membawa Ranem ke kawasan wisata Bandungan dan menyekapnya selama tiga hari di sana. Setelah itu, rombongan bertolak kembali ke Semarang, sempat singgah di Bawen untuk makan, sambil diam-diam menyusun rencana pembunuhan secara matang.
Setibanya di Semarang, Ranem disekap di sebuah rumah di daerah Jatingaleh. Meski telah diculik dan dikurung berhari-hari, Ranem tetap bersikukuh menolak melayani hasrat SN. Penolakan yang berulang kali tersebut membuat SN gelap mata, dan akhirnya berujung pada eksekusi pembunuhan sang wanita malang. Jasad Ranem pada akhirnya dibuang di sekitar area Silayur untuk menghilangkan jejak.
Kasus Terbongkar Setelah Dua Tahun
Meski para pelaku telah berusaha merencanakan kejahatan ini serapi mungkin, pepatah sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga terbukti benar. Kasus ini terbongkar dan mulai diadili pada 4 Juli 1973.
Kisah kelam Ranem dari Sunan Kuning ini menjadi catatan hitam dalam sejarah kriminalitas di Semarang, sekaligus pengingat tentang berbahayanya dendam dan kejahatan terencana.

