BerandaKAMPUS SEMARANGIjazah Blockchain Udinus Semarang Sudah Diakui Dubai — LLDIKTI Minta Dibuat Bilingual...

Ijazah Blockchain Udinus Semarang Sudah Diakui Dubai — LLDIKTI Minta Dibuat Bilingual Sekalian

Udinus Semarang jadi kampus pertama di dunia yang terapkan blockchain untuk ijazah. Dubai Blockchain Center angkat topi, LLDIKTI Jateng minta langkah selanjutnya: bilingual.

SEMARANG, aslisemarang.id — Jan-jane, siapa sangka kampus swasta di Semarang bisa bikin gebrakan yang sampai dibicarakan dari Dubai. Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang baru saja mencatatkan diri sebagai kampus pertama di dunia yang menerapkan teknologi blockchain untuk penerbitan ijazah — dan langkah itu langsung mendapat respons dari dua arah sekaligus: apresiasi internasional dari Dubai Blockchain Center, dan dorongan tambahan dari pemerintah pusat.

Dorongan itu datang dari Ketua LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Prof Aisyah Endah Palupi. Dalam rangkaian wisuda ke-87 Udinus yang berlangsung Kamis (30/4/2026), ia secara terang-terangan meminta Udinus untuk tidak berhenti di blockchain saja. Ada satu langkah lagi yang dinilainya krusial: buat ijazahnya bilingual, pakai Bahasa Inggris.

"Kami berharap dengan blockchain ini, ke depannya minimal ijazah bisa bersifat bilingual atau tersedia dalam Bahasa Inggris. Hal ini penting agar para lulusan bisa langsung berkiprah dan berkompetisi mencari pekerjaan di Eropa, Amerika, Australia, hingga negara lainnya."

— Prof Aisyah Endah Palupi, Ketua LLDIKTI Wilayah VI Jateng

Bukan Sekadar Barcode — Ini Soal Nasib Kerja di Luar Negeri

Selama ini, lulusan Indonesia yang ingin melamar kerja di luar negeri harus melewati proses yang yo wis, panjang dan melelahkan: translasi dokumen, legalisasi, atestasi, antri di kantor notaris — semuanya butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit. Teknologi blockchain, kata Prof Aisyah, berpotensi memangkas semua kerumitan itu menjadi instan.

Mekanismenya sederhana secara konsep: ijazah disimpan dalam jaringan blockchain yang terdesentralisasi. Siapapun — calon employer, institusi pendidikan, atau lembaga pemerintah di negara manapun — bisa memverifikasi keaslian ijazah hanya dengan memindai barcode. Tidak perlu antre, tidak perlu cap basah, tidak perlu khawatir soal ijazah palsu.

Nylentik: Semarang Duluan Sebelum Jakarta

Wis kebacut menarik memang, kalau kita pikir-pikir. Di tengah narasi bahwa inovasi besar selalu lahir dari Jakarta atau kampus-kampus negeri besar, Udinus Semarang justru yang duluan. Bukan sekadar adopsi teknologi — tapi menciptakan preseden dunia.

Tentu, perjalanan belum selesai. Dorongan LLDIKTI agar ijazah dibuat bilingual adalah pekerjaan rumah berikutnya. Bukan hal mudah: ada standar tata bahasa akademik, ada aspek hukum keabsahan dokumen resmi, ada konsistensi dengan sistem nasional. Tapi setidaknya, arahnya sudah jelas.

Kalau bilingual blockchain ini terwujud, lulusan Udinus Semarang bisa melamar kerja di Amsterdam, Melbourne, atau Toronto tanpa perlu bolak-balik ke notaris dan kantor kedutaan. Cukup scan, verifikasi, kirim. Sesederhana itu — dan sesignifikan itu.

Ya ora to? (*)

RELATED ARTICLES
- Advertisment -spot_img

Most Popular