Para pedagang Pasar Kanjengan Semarang kehilangan segalanya dalam semalam. Kios, stok barang, modal — semua habis terbakar. Kini mereka menunggu kepastian yang belum juga datang.
SEMARANG, aslisemarang.id — Pukul 23.00 WIB, saat sebagian besar warga Semarang sudah terlelap, para pedagang Blok F Pasar Kanjengan justru baru saja kehilangan segalanya. Api yang muncul tiba-tiba tidak memberi mereka waktu — tidak untuk menyelamatkan stok, tidak untuk mengamankan dokumen, tidak untuk sekadar menarik napas dan berpikir.
Yang bisa mereka lakukan hanya berdiri di balik garis polisi, menyaksikan kios-kios yang dibangun bertahun-tahun itu runtuh satu per satu menjadi abu.
Sekitar 200 kios di Blok F Pasar Kanjengan hangus dalam kebakaran Rabu (29/4/2026) malam hingga Kamis (30/4/2026) dini hari. Blok ini dikenal sebagai salah satu area perdagangan aktif di belakang Pasar Johar — campuran pedagang tekstil, sembako, peralatan rumah tangga, hingga pedagang kuliner yang sudah berjualan di sini selama puluhan tahun.
Tidak Ada Waktu untuk Menyelamatkan Apapun
Kebakaran di pasar tradisional punya karakter yang berbeda dengan kebakaran di tempat lain. Kios-kios berdempetan rapat, material bangunan semi-permanen, dan tumpukan barang dagangan yang mudah terbakar membuat api bisa merambat dalam hitungan menit.
Saat laporan pertama diterima pukul 23.00 WIB, sebagian besar pedagang sudah tidak berada di lokasi — pasar memang sudah tutup. Artinya, hampir tidak ada yang sempat mengevakuasi barang dagangan. Stok yang sudah dibeli, peralatan yang sudah dicicil, modal yang sudah diputar — semuanya ikut terbakar.
"Lokasi yang terdampak berada di Blok F Pasar Kanjengan yang berbatasan langsung dengan pertokoan di wilayah Kauman."
— Kombes Pol. Heri Wahyudi, Kapolrestabes Semarang
Kerugian Miliaran, Kepastian Belum Ada
Besaran kerugian resmi memang belum diumumkan. Tapi angka "miliaran rupiah" yang disebut aparat bukan isapan jempol — setiap kios yang hangus membawa serta modal kerja, stok barang, dan peralatan yang nilainya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah per pedagang.
Yang lebih menyakitkan dari angka-angka itu: sampai Kamis pagi, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kota Semarang tentang langkah konkret pemulihan. Tidak ada pengumuman relokasi sementara, tidak ada informasi bantuan darurat, tidak ada kejelasan kapan pedagang boleh kembali ke lokasi.
Akses menuju kawasan Kanjengan dan sebagian ruas Kauman masih ditutup sementara — alasan keamanan, sambil menunggu tim Labfor menyelesaikan olah TKP untuk mencari penyebab kebakaran.
Menunggu di Tempat yang Tidak Pasti
Ya ora to, ini bukan sekadar soal kios yang terbakar. Bagi pedagang pasar tradisional, kios adalah kantor, adalah gudang, adalah identitas. Kehilangannya dalam semalam bukan hanya soal kerugian finansial — tapi juga soal kehilangan rutinitas, relasi dengan pelanggan, dan kepercayaan diri untuk bangkit.
Semarang punya sejarah panjang dengan kebakaran di kawasan Johar dan sekitarnya. Dan setiap kali terjadi, yang paling lama menanggung beban adalah para pedagang kecil — yang modalnya terbatas, yang tidak punya asuransi, yang tidak punya pilihan lain selain menunggu dan berharap ada yang peduli. (*)

