Indah adalah seorang mahasiswi yang menyewa kamar kos di kawasan Tembalang, Semarang. Kamarnya terletak paling ujung di lorong lantai dua, sebuah posisi yang membuatnya cukup terisolasi. Pada siang hari, udara di dalam terasa sumuk menjerat kulit, namun saat malam tiba, hawanya selalu berubah menjadi dingin yang menggigit tulang, diiringi aroma apak khas tembok tua yang lembap.
Malam itu kebetulan jatuh pada malam Jumat yang kelewat sepi. Kebanyakan teman kos Indah sedang keluar malam atau sudah pulang kampung sejak sore. Praktis, di lorong memanjang yang hanya diterangi satu bohlam kekuningan yang berkedip pelan itu, hanya Indah sendirian yang masih terjaga di balik pintu kayunya yang tertutup rapat.
Berjam-jam lamanya Indah berkutat di depan laptop. Suara dengung kipas pendingin laptop berpadu dengan ketukan keyboard menjadi satu-satunya sumber kebisingan di kamar itu. Punggungnya mulai terasa kaku seperti papan, dan matanya perih memerah menatap pendar layar. Ketika angka digital di ponselnya berkedip menunjukkan pukul setengah dua belas malam, ia menyerah pada rasa kantuk yang menekan kelopak matanya.
Indah mematikan laptopnya, membiarkan kegelapan perlahan menyergap. Langkah gontainya menuju sakelar diiringi bunyi telapak kaki telanjang yang menyentuh lantai keramik dingin. Cetek. Lampu utama padam, digantikan oleh pendar kemerahan yang remang dari lampu tidur kecil di sudut meja. Ia lalu menenggelamkan tubuh pegalnya ke atas kasur busa, menarik selimut tebal yang berbau pewangi pakaian.
Suasana Tembalang malam itu benar-benar sunyi senyap, tanpa raungan knalpot motor yang biasanya membelah jalanan menanjak di daerah itu. Keheningan itu terasa pekat dan menekan telinga, hanya disela oleh keriuhan suara jangkrik dari semak belukar basah di lahan kosong belakang kos, serta desir angin malam yang menyusup lewat celah ventilasi.
Belum sepenuhnya kesadaran Indah melayang ke alam mimpi, telinganya menangkap sebuah bebunyian ganjil dari balik pintunya. Terdengar seperti ada sesuatu yang berat dan terbungkus kain kasar sedang diseret perlahan di atas lantai keramik luar. Srek… srek… srek… Bunyian bergesek itu monoton, berirama lambat, dan perlahan-lahan semakin jelas mendekat ke arah kamarnya.
“Halah, palingan yo mung kucing mboh tikus lewat ik, rasah dipikir,” batin Indah, mencoba merasionalisasi meski bulu kuduk di tengkuknya mulai meremang berdiri. Ia lekas menarik selimutnya lebih tinggi hingga menutupi telinga, sengaja memiringkan badannya menghadap ke tembok yang dingin agar tak perlu melihat ke arah celah bawah pintu yang gelap.

Namun, usahanya untuk abai sama sekali tak membuahkan hasil. Baru saja ia kembali memejamkan mata, kasur yang ditidurinya terasa bergoyang. Awalnya hanya getaran ritmis yang halus merambat di punggungnya, tetapi lama-kelamaan, goyangan itu membesar. Bunyi kriet… kriet… dari ranjang kayunya yang beradu saling bergesekan memecah sunyinya malam.
Jantung Indah seketika berdegup liar, memompa darah begitu cepat hingga mendengung keras di telinganya. “Asem ik, ono opo iki kasure kok goyang-goyang dewe?” tanyanya dalam hati, didera panik yang mencekik dada. Ia mencoba menggerakkan bahunya untuk menoleh, namun nahas, sekujur tubuhnya mendadak kaku, membeku seperti balok es, tak merespons perintah otaknya sedikit pun.
Keringat dingin mulai merembes sebesar biji jagung di keningnya saat ia merasakan ujung kasur di dekat pintu perlahan amblas ke dalam. Ada sesuatu yang berbobot sangat berat dan padat sedang menaiki ranjangnya. Bau anyir tanah basah yang menyengat, bercampur dengan aroma kapur barus tua, seketika menyeruak menampar penciumannya dan membuat perutnya mual bergejolak.
Beban gaib itu merambat naik dengan kasar menelusuri selimut dan tubuhnya yang lumpuh. Dari ujung kaki, menekan lutut, hingga akhirnya melompat dan mendarat telak menindih dada serta perutnya. Dari celah matanya yang hanya bisa terbuka setitik terang, Indah melihat gumpalan kain kafan penuh bercak tanah kecokelatan berjarak sejengkal dari wajahnya. Sesosok pocong sedang mendudukinya.
“Setan alas! Ngopo kowe nindih aku, ndes! Tulung, Ya Allah… Minggato!” jerit batin Indah meronta liar dalam penjara dagingnya sendiri. Paru-parunya seakan digencet batu gilingan, tak ada setetes udara pun yang bisa dihirup. Rapalan ayat suci di kepalanya pecah berserakan, tergantikan oleh rasa perih yang membakar paru-paru.
“De’e rak trimo, jarene pocong mau bengi kuwi ‘kiriman’ seko de’e ben urupmu rak tenang. Sumpah ndes, de’e ancen niat elek mergo wis mbok gawe isin!
Pandangan Indah mulai berkunang-kunang, sudut-sudut penglihatannya menggelap seiring napas yang nyaris putus total. Namun, pada detik terakhir sebelum kesadarannya benar-benar terenggut, beban berbau tanah kuburan itu tiba-tiba melesat pergi dan sirna membelah udara kosong. Indah njola terbangun, tersedak dan meraup udara rakus-rakus dengan dada naik turun, tangannya gemetar hebat menggapai sakelar lampu agar kamarnya kembali terang benderang.
Keesokan paginya, matahari Tembalang sudah bersinar terik menyengat kulit, tapi tubuh Indah masih menggigil dengan wajah pucat pasi dan lingkaran hitam pekat di bawah matanya. Di ruang tengah kos yang bising oleh derau suara televisi, ia menceritakan teror anyir semalam kepada Nisa, teman satu kosnya, dengan bibir yang masih pucat dan bergetar.
-
Boso Gali: Bahasa Rahasia Preman Semarang yang Bikin Bingung Orang Luar
Mode ngoce congyang, ngamu ngoce moli. Kalau kamu orang Semarang asli dan langsung paham kalimat di atas, selamat — kamu penutur boso gali. Kalau kamu bengong, ya ora to, santai. Artinya cuma: “Kamu minum congyang, aku minum kopi.” Tidak ada yang mengancam. Tapi justru itulah intinya — bahasa ini memang dirancang supaya orang luar tidak…
-
Akibat Social Media, Dialek Semarang Pelan-pelan Ilang
Anak muda Semarang sekarang wis kebacut akrab sama bahasa TikTok. “Slay” gampang keluar, “delulu” tinggal sebut, tapi giliran “ndes” atau “matamu ik” — jan-jane malah pada bengong. Dialek Semarangan yang dulu nempel di setiap obrolan warung kopi, angkringan, sampai tongkrongan pinggir jalan, pelan-pelan mulai tergeser. Bukan hilang seketika, tapi ya ora to — makin jarang…
-
Perempuan Autis di Semarang Diduga Diperkosa Oknum LSM, Kini Hamil 5 Bulan
Seorang perempuan penyandang autisme berinisial AL (25), warga Pedurungan, Kota Semarang, diduga menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh oknum pengurus LSM berinisial JD (40). Korban kini diketahui hamil lima bulan. Menurut kuasa hukum korban, Zainal Abidin, pelaku diduga mengajak korban keluar menggunakan mobil sebanyak tiga kali. Persetubuhan dilaporkan terjadi dua kali. Pelaku dan korban…
Nisa mendengarkan lekat-lekat, rahangnya mengeras sebelum ia menghela napas panjang dan menarik bunyi decit kursinya merapat. “Ndah, kowe kudu ngati-ati tenan. Wingi aku krungu seko cah-cah, Agus kae jarene loro ati pol pas mbok tolak minggu wingi,” bisik Nisa, hembusan napasnya menerpa wajah Indah. “De’e rak trimo, jarene pocong mau bengi kuwi ‘kiriman’ seko de’e ben urupmu rak tenang. Sumpah ndes, de’e ancen niat elek mergo wis mbok gawe isin!” Indah seketika meremang, hawa dingin kembali merayapi tengkuknya menyadari bahwa teror mistis yang mencekiknya semalam berakar dari pekatnya dendam seorang manusia. (*)



